Abu Hafshin Al-Haddad

ABU HAFSHIN BIN HADDAD BERTAUBAT

Ketika masih remaja, Abu Hafshin bin Haddad jatuh cinta kepada seorang gadis pelayan. Ia sedemikian tergila-gila sehingga tak dapat hidup dengan tenang.
“Ada seorang dukun Yahudi yang tinggal di pinggiran kota Nishapur. Ia tentu dapat menolongmu”, sahabat-sahabatnya menyarankan. Maka pergilah Abu Hafshin menemui dukun Yahudi itu dan menerangkan masalah yang sedang dihadapinya.

Si Yahudi menyarankan: “Selama empat puluh hari janganlah engkau melakukan shalat, dengan cara bagaimana pun juga janganlah kau patuhi perintah Allah, dan jangan lakukan perbuatan-perbuatan baik. Selama itu pula jangan engkau sebut-sebut nama Allah dan sama sekali jangan memikirkan hal-hal yang baik. Setelah semua ini engkau lakukan, barulah aku sanggup dengan sihirku membuat kehendakmu itu tercapai”. Selama empat puluh hari Abu Hafshin melaksanakan nasehat si dukun. Setelah itu si dukun membuatkan sebuah jimat untuknya, tetapi ternyata juga masih tak ada hasilnya.

Si Yahudi berdalih: “Sudah pasti bahwa selama ini engkau pernah melakukan perbuatan baik. Jika tidak, tentu tujuanmu itu telah tercapai”.
“Tak ada pelanggaran yang pernah kulakukan”, Abu Hafshin membela diri. “Satu-satunya kebajikan yang kuingat adalah menyepak sebuah batu ketika aku datang ke sini agar tak ada orang yang tersandung karenanya” .
“Janganlah menjengkelkan Allah yang perintah-perintah-Nya hendak engkau tentang selama empat puluh hari. Dia takkan menyia-nyiakan kemurahan-Nya walau untuk kebajikan kecil seperti yang telah engkau lakukan”, cela si Yahudi.
Kata-kata itu mengobarkan api taubat di dalam dada Abu Hafshin, bahkan sedemikian berkobarnya sehingga ia bertaubat melalui si Yahudi itu.

Abu Hafshin terus melakukan usahanya sebagai pandai besi, dan menyembunyikan keajaiban yang telah terjadi terhadap dirinya itu. Setiap hari ia memperoleh uang satu dinar. Dan setiap malam pula uang satu dinar itu diberikannya kepada orang-orang miskin, atau secara sembunyi dimasukannya ke dalam kotak surat di rumah para janda. Kemudian, bila waktu isya’ telah tiba, ia pun pergi mengemis dan dengan uang yang diperolehnya melalui cara ini ia berbuka puasa. Kadang ia mengumpulkan bawang atau lainnya sisa-sisa yang terdapat di kamar cuci umum, lalu dijadikannya sebagai santapannya.

Demikianlah perilaku Abu Hafshin untuk beberapa lama. Pada suatu hari seorang buta berjalan di dalam pasar sambil membaca ayat “Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka akan ditunjukkan Allah kepada mereka yang tak pernah mereka sangka sebelumnya …… “

Ayat ini menyesakkan dada Abu Hafshin sehingga ia tak sadarkan diri. Sehingga, ketika itu dipertukangannya, sebagai ganti jepitan ia masukkan tangannya ke dalam tungku perapian untuk mengambil sepotong besi yang sedang membara. Besi tersebut ia taruh ke atas paron untuk dipalu anak-anak buahnya. Semua anak buah Abu Hafshin tersadar, betapa Abu Hafshin menempa besi panas itu dengan tangannya sendiri.
“Tuan, apa yang engkau perbuat ?” seru mereka.
“Palu!” Abu Hafshin memberi perintah.
“Tuan, apakah yang harus kami palu?” tanya mereka, “besi ini telah bersih”.

Barulah Abu Hatshin sadar. Dilihatnya besi yang membara di tangannya dan didengarnya seruan-seruan anak buahnya: “Besi itu telah bersih. Apakah yang harus kami palu?” Besi tersebut dilemparkannya. Bengkel itu segera ditinggalkannya dan siapa pun boleh mengurusnya. “Sudah lama sebenarnya aku ingin meninggalkan usaha tersebut, tapi tak dapat. Akhirnya kejadian ini menimpa diriku dan secara paksa membebaskanku. Betapa pun aku mencoba meninggalkan usaha itu, namun sia-sia, akhirnya usaha itu sendiri yang meninggalkan diriku”

Sesudah itu, Abu Hafshin menjalani kehidupan dengan disiplin diri yang keras, menyepi dan bermeditasi.
Read more

Apakah Boleh Satu Sembelihan Untuk Qurban dan Aqiqah?

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.

Mengenai permasalahan menggabungkan niat Udh-hiyah (Qurban) dan Aqiqah, para ulama memiliki beda pendapat.

Pendapat pertama: Udh-hiyah (qurban) tidak boleh digabungkan dengan aqiqah. Pendapat ini adalah pendapat ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad.

Alasan dari pendapat pertama ini karena aqiqah dan qurban memiliki sebab dan maksud tersendiri yang tidak bisa menggantikan satu dan lainnya. ‘Aqiqah dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran seorang anak, sedangkan qurban mensyukuri nikmat hidup dan dilaksanakan pada hari An Nahr (Idul Adha).[1]

Al Haitami –salah seorang ulama Syafi’iyah- mengatakan, “Seandainya seseorang berniat satu kambing untuk qurban dan ‘aqiqah sekaligus maka keduanya sama-sama tidak teranggap. Inilah yang lebih tepat karena maksud dari qurban dan ‘aqiqah itu berbeda.”[2]

Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkiy dalam Fatawa Kubronya menjelaskan, “Sebagaimana pendapat ulama madzhab kami sejak beberapa tahun silam, tidak boleh menggabungkan niat aqiqah dan qurban. Alasannya, karena yang dimaksudkan dalam qurban dan aqiqah adalah dzatnya (sehingga tidak bisa digabungkan dengan lainnya, pen).  Begitu pula keduanya memiliki sebab dan maksud masing-masing. Udh-hiyah (qurban) sebagai tebusan untuk diri sendiri, sedangkan aqiqah sebagai tebusan untuk anak yang diharap dapat tumbuh menjadi anak sholih dan berbakti, juga aqiqah dilaksanakan untuk mendoakannya.”[3]

Pendapat kedua: Penggabungan qurban dan ‘aqiqah itu dibolehkan. Menurut pendapat ini, boleh melaksanakan qurban sekaligus dengan niat ‘aqiqah atau sebaliknya. Inilah salah satu pendapat dari Imam Ahmad, pendapat ulama Hanafiyah, pendapat Al Hasan Al Bashri, Muhammad bin Sirin dan Qotadah.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Jika seorang anak ingin disyukuri dengan qurban, maka qurban tersebut bisa jadi satu dengan ‘aqiqah.” Hisyam dan Ibnu Sirin mengatakan, “Tetap dianggap sah jika qurban digabungkan dengan ‘aqiqah.”[4]

Al Bahuti –seorang ulama Hambali- mengatakan, “Jika waktu aqiqah dan penyembelihan qurban bertepatan dengan waktu pelaksanaan qurban, yaitu hari ketujuh kelahiran atau lainnya bertepatan dengan hari Idul Adha, maka boleh melakukan aqiqah sekaligus dengan niat qurban atau melakukan qurban sekaligus dengan niat aqiqah. Sebagaimana jika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, kita melaksanakan mandi jum’at sekaligus dengan niat mandi ‘ied atau sebaliknya.”[5]

Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. Beliau mengatakan, “Jika qurban dan ‘aqiqah digabungkan, maka cukup dengan satu sembelihan untuk satu rumah. Jadi, diniatkan qurban untuk dirinya, lalu qurban itu juga diniatkan untuk ‘aqiqah".

Sebagian mereka yang berpendapat demikian, ada yang memberi syarat bahwa aqiqah dan qurban itu diatasnamakan si kecil. Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa tidak disyaratkan demikian. Jika seorang ayah berniat untuk berqurban, maka dia juga langsung boleh niatkan aqiqah untuk anaknya.”[6] Intinya, Syaikh Muhammad bin Ibrahim membolehkan jika qurban diniatkan sekaligus dengan Aqiqah.

Point Penting dalam Penggabungan Niat

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa penggabungan niat  diperbolehkan jika memang memenuhi dua syarat:

- Kesamaan jenis.
- Ibadah tersebut bukan ibadah yang berdiri sendiri, artinya ia bisa diwakili oleh ibadah sejenis lainnya.

Kami contohkan di sini, bolehnya penggabungan niat shalat tahiyatul masjid dengan shalat sunnah rawatib. Dua shalat ini jenisnya sama yaitu sama-sama shalat sunnah. Mengenai shalat tahiyatul masjid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).”[7]

Maksud hadits ini yang penting mengerjakan shalat sunnah dua raka’at ketika memasuki masjid, bisa diwakili dengan shalat sunnah wudhu atau dengan shalat sunnah rawatib. Shalat tahiyatul masjid bukan dimaksudkan dzatnya. Asalkan seseorang mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (apa saja shalat sunnah tersebut) ketika memasuki masjid, ia berarti telah melaksanakan perintah dalam hadits di atas.

Namun untuk kasus aqiqah dan qurban berbeda dengan shalat sunnah awatib dan shalat sunnah tahiyatul masjid. Qurban dan aqiqah memang sama-sama sejenis yaitu sama-sama daging sembelihan. Namun keduanya adalah ibadah yang berdiri sendiri dan tidak bisa digabungkan dengan lainnya. Qurban untuk tebusan diri sendiri, sedangkan aqiqah adalah tebusan untuk anak. Lihat kembali penjelasan Ibnu Hajar Al Makki di atas.

Jalan Keluar dari Masalah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum menggabungkan niat udh-hiyah (qurban) dan ‘aqiqah, jika Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak?

Syaikh rahimahullah menjawab, “Sebagian ulama berpendapat, jika hari Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dilaksanakan udh-hiyah (qurban), maka tidak perlu lagi melaksanakan aqiqah (artinya qurban sudah jadi satu dengan aqiqah, pen). Sebagaimana pula jika seseorang masuk masjid dan langsung melaksanakan shalat fardhu, maka tidak perlu lagi ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Alasannya, karena dua ibadah tersebut adalah ibadah sejenis dan keduanya bertemu dalam waktu yang sama. Maka satu ibadah sudah mencakup ibadah lainnya.

Akan tetapi, saya sendiri berpandangan bahwa jika Allah memberi kecukupan rizki, (ketika Idul Adha bertepatan dengan hari aqiqah), maka hendaklah ia berqurban dengan satu kambing, ditambah beraqiqah dengan satu kambing (jika anaknya perempuan) atau beraqiqah dengan dua kambing (jika anaknya laki-laki).”[8]

Kesimpulan

Dari dua pendapat di atas, kami lebih condong pada pendapat pertama yang menyatakan bahwa penggabungan niat antara aqiqah dan qurban tidak diperbolehkan, karena walaupun ibadahnya itu sejenis namun maksud aqiqah dan qurban adalah dzatnya sehingga tidak bisa digabungkan dengan yang lainnya. 

Pendapat pertama juga lebih hati-hati dan lebih selamat dari perselisihan yang ada.
Jika memang aqiqah bertepatan dengan qurban pada Idul Adha, maka sebaiknya dipisah antara aqiqah dan qurban.
Jika mampu ketika itu, laksanakanlah kedua-duanya. Artinya laksanakan qurban dengan satu kambing atau ikut urunan sapi, sekaligus laksanakan aqiqah dengan dua kambing (bagi anak laki-laki) atau satu kambing (bagi anak perempuan).
Jika tidak mampu melaksanakan aqiqah dan qurban sekaligus, maka yang lebih didahulukan adalah ibadah udh-hiyah (qurban) karena waktunya bertepatan dengan hari qurban dan waktunya cukup sempit. Jika ada kelapangan rizki lagi, barulah ditunaikan aqiqah.

Wallahu a’lam bish showab.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.

====================================
[1] Lihat Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1526, Multaqo Ahlul Hadits.
[2] Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj, 41/172, Mawqi’ Al Islam.
[3] Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubro, 9/420, Mawqi’ Al Islam
[4] Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 5/116, Maktabah Ar Rusyd, cetakan pertama, tahun 1409 H.
[5] Syarh Muntahal Irodaat, 4/146, Mawqi’ Al Islam.
[6] Fatawa wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/136, Asy Syamilah
[7] HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 714, dari Abu Qotadah.
[8] Majmu’ Fatawa wa Rosail Al ‘Utsaimin, 25/287-288, Darul Wathon-Dar Ats Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.


Referensi: muslim.or.id
Read more

Memperingati Maulid Rasulullah SAW

Umat islam di berbagai penjuru dunia sangat bersuka cita dengan masuknya bulan Rabiul Awwal, atau biasa disebut banyak orang sebagai bulan “Maulid”. Memang hal ini layak dan pantas sebab pada bulan inilah terjadinya Maulid (kelahiran) Nabi yang paling mulia, Nabi yang meliputi alam semesta dengan Risalah dan Rahmat-nya, Nabi yang paling banyak mendapat fadhail (keutamaan) dan keistimewaaan, beliaulah Nabi kita, Sayyiduna Muhammad bin Abdillah SAW.

Kemudian, bermula dari bulan kelahiran Nabi Muhammad inilah saat ini kaum muslimin serentak di berbagai daerah mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad, hampir sebulan penuh mereka mengisi hari-hari tersebut dengan mengumpulkan orang-orang membaca kitab Maulid, bersholawat, memuji Rasulullah dan mendengarkan ceramah agama kemudian menikmati hidangan.

Kesemuanya itu tidak lain adalah perwujudan kesenangan hatinya menyambut datangnya bulan yang mulia ini. Yang ujung-ujungnya bahwa semua ini adalah realisasi dari kecintaannya kepada Rasulullah saw.
Semua yang berkaitan dan berhubungan dengan beliau saw menjadi mulia. Semua yang dinisbatkan kepada beliau menjadi terhormat. Ini semata-mata karena kemuliaan dan kehormatan beliau SAW. Hari senin menjadi mulia karena pada hari itu dilahirkan Nabi Muhammad, Nabi yang paling mulia, bulan Rabiul Awwal menjadi bulan yang agung, ditunggu-tunggu kehadirannya oleh kaum muslimin, sebagaimana mereka menunggu Ramadhan, karena pada bulan Rabiul Awwal ini dilahirkan Nabi Muhammad yang ditunggu-tunggu seluruh alam persada. Karena beliaulah Nabi pembawa dan penyebar Rahmat untuk sekalian alam.

Telah menjadi kebiasaan dan tradisi di kalangan salafus Saleh setelah abad ke 3 Hijriyah merayakan peringatan maulid Nabi Saw yang agung. Mereka menghidupkan malam maulid dengan berbagai macam ketaatan dan ibadah pendekatan kepada Allah seperti memberi makan takir miskin, membaca Al Quran, membaca zikir-zikir, melantunkan puisi-puisi dan pujian-pujian tentang Rasulullah Saw.

Hal ini ditegaskan oleh beberapa ulama seperti Al-Hafizh Ibnu Jauzi, Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al Hafizh Ibnu Dihyah Al-Andalusi, Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan Sang Penutup huffazh (para penghapal hadits dalam jumlah yang sangat banyak) Jalaluddin Al-Suyuthi, semoga Allah Swt melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Peringatan maulid semacam ini sudah dilakukan oleh kaum muslimin sejak zaman dahulu seperti yang telah kami sebutkan. Para imam, ulama dan masyarakat awam pun ikut memeriahkannya. Namun akhir-akhir ini banyak kita mendengar beberapa kelompok yang menyatakan bahwa peringatan Maulid ini adalah bid’ah yang mengarah kepada kesesatan dan akhirnya menuju neraka. Mereka kemudian memakai dalil yang mereka miliki untuk menguatkan pendapatnya ini. Diantaranya mereka berkata bahwa Peringatan seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat. Peringatan seperti ini hanya membuang-buang waktu dan harta (Israaf) dan lain sebagainya.

Benarkah argument ini?. Lantas apakah kegiatan yang sudah turun-temurun, generasi demi generasi ini harus dibubarkan dan dinyatakan sebagai kegiatan yang menyalahi agama dan pelakunya akan terseret dalam kesesatan?, Tentu tidak!.

Kita pun disini akan mengemukakan beberapa dalil dan alasan yang menguatkan diperbolehkannnya melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebenarnya sudah banyak ulama menulis dalam karya mereka kitab khusus yang membahas masalah ini dan semuanya sudah sangat jelas dan akurat bahwa peringatan seperti itu boleh-boleh saja atau bahkan sangat dianjurkan apalagi di zaman seperti ini, zaman dimana-mana fitnah bertebaran, maksiat meraja lela. Dan bahkan jika dilihat bahwa di dalam kegiatan itu ada pembacaan sholawat, al Quran, dan lain sebagainya, maka itu adalah ibadah. Artinya kegiatan yang didalamnya dilakukan ibadah. Yang pasti berpahala.

Semua perbuatan itu termasuk menyantuni anak-anak yatim dan fakir miskin, merupakan lambang atau syiar pernyataan sikap kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW, dan menunjukkan peghormatan kita terhadap kebesaran Nabi serta tanda syukur dan terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengutus Nabi Muhammad SAW ke permukaan bumi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Sebelum dikemukakan dalil-dalil tersebut, perlu kita ketahui bahwa Perayaan atau Peringatan Maulid seperti yang kita lakukan dan kita saksikan, memang tidak diadakan oleh Nabi Muhammad dan para Sahabat, karena kesibukan beliau dalam mengemban dakwah, menyebarkan Risalah, berperang dan kesibukan lainnya.
Akan tetapi bukan berarti bahwa Beliau sama sekali tidak memperingati atau mengenang Maulid (Kelahiran) beliau, Beliau saw melakukannya, hanya saja beliau ungkapkan perasaan gembira tersebut dengan cara berpuasa. Seperti dalam hadits riwayat Imam Muslim, beliau saw ditanya tentang puasa Senin yang beliau lakukan, beliau menjawab, “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku diturunkan wahyu”.

Hadits diatas menunjukkan bahwa beliau senang dan bersuka cita akan hari kelahirannya walaupun kesenangan beliau ini diwujudkan dengan puasa, sedangkan kita menunjukkan kesenangan tersebut dengan cara mengumpulkan orang-orang untuk membaca Sholawat, Al Quran, memuji beliau, berdzikir dan bersedekah. Memang bentuk perayaannya berbeda tapi tujuannya sama.


Pandangan Ulama tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Al Hafizh Abu al Khair as Sakhawi mengatakan bahwa peringatan maulid Nabi yang mulia itu tidak dilakukan atau dinukil dari salaf pada masa abad ke 3 Hijriyah, dimulai peringatan maulid tersebut setelah abad ke 3 Hijriyah. Pada acara tersebut diadakan berbagai amal kebajikan, membaca kitab maulid dan menampakkan kegembiraan atas kelahiran Nabi. Sehingga tampaklah keberkahan pada mereka.

Dari kalangan pembesar-pembesar negara, yang mula-mula mengadakan perayaan untuk memperingatinya tercatatlah nama Raja Mudhaffar Abu Sa’id penguasa Irbil, Irak. Demikian menurut pendapat Imam as-Sakhawi.

Menurut keterangan Imam Ibnu al Jauzi, pada upacara ini pujangga terkenal Hafizh Ibnu Dihyah menyusun suatu naskah yang dinamakan dengan At-Tanwir fi Maulidil Basyir an-Nadzir, yang isinya memuat riwayat singkat perjuangan Nabi Muhammad saw. Untuk ini Raja Mudhaffar Abu Sa’id memberinya 1000 dinar. Beliau terkenal seorang yang gagah perkasa, pintar dan bijaksana. Ketika wafat, beliau sedang dalam penyerangan mengepung pasukan Eropa di kota Aka, tahun 630 H.

Dalam kitab I’anatuth Thalibin , Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad Dimyathi menyatakan bahwa Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Mir-at Az Zaman menceritakan tentang peringatan Maulid yang diadakan Raja Mudhaffar Abu Sa’id itu. Dikatakan dalam upacara itu disembelih sebanyak 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 roti mentega dan 30.000 piring kue-kue. Hadir pada upacara itu, pemuka-pemuka, alim ulama, ahli-ahli tasawuf dan orang-orang besar lainnya. Biaya seluruhnya mencapai 300.000 dinar. Mulai saat itu hingga kini ramai umat Islam di seluruh dunia memperingati Mauild Nabi.

Imam Abu Syamah (guru Imam An Nawawi) lebih jauh menegaskan bahwa diantara bid’ah yang baik dilakukan pada masa kita sekarang ini, adalah pertemuan pada tanggal 12 Rabiul Awal dengan bersedekah, berbuat baik, berdandan rapi dan menghias diri, sebagai tanda kegembiraan hati atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Semua perbuatan itu termasuk menyantuni anak-anak yatim dan fakir miskin, merupakan lambang atau syiar pernyataan sikap kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW, dan menunjukkan peghormatan kita terhadap kebesaran Nabi serta tanda syukur dan terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengutus Nabi Muhammad SAW ke permukaan bumi untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Banyak ulama dan fuqaha yang telah menulis buku-buku tentang anjuran merayakan peringatan maulid Nabi Saw yang mulia. Mereka menjelaskan dalil-dalil yang shahih tentang sunnahnya kegiatan ini. Semua itu tidak menyisakan ruang bagi orang yang memiliki akal, pemahaman, dan pikiran yang sempurna untuk mengingkari apa yang telah ditempuh dan dilakukan oleh kalangan salafussaleh berupa perayaan maulid Nabi Saw

Dalam kitab Al-Madkhal, Ibnu Hajj menjelaskan dengan panjang lebar tentang keutamaan-keutamaan yang berkaitan dengan perayaan ini dan dia mengemukakan uraian penuh manfaat yang membuat lapang hati orangorang yang beriman.
Perlu diketahui bahwa Ibnu Hajj sendiri menulis kitab al-Madkhal dengan tema mencela perkara-perkara bid'ah yang diada-adakan yang tidak tersentuh oleh dalil syariat.

Sang Penutup para hafizh, Jalaluddin As-Suyuthi, di dalam bukunya "Husnul Maqshid fi 'Amalil Maulid" memberikan penjelasan tentang maulid Nabi Saw dalam rangka menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya tentang kegiatan maulid Nabi Saw pada bulan Rabi'ul Awwal: Apa hukumnya dalam pandangan syariah? Apakah kegiatan itu terpuji atau tercela? Dan apakah pelakunya mendapatkan pahala? Dia berkata, "Jawabannya, menurutku, bahwa hukum dasar kegiatan maulid -yang herupa berkumpulnya orang-orang yang banyak; membaca beberapa ayat-ayat Al Quran; menyampaikan 'khabar-khabar' yang diriwayatkan tentang awal perjalanan hidup Nabi Saw dan tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada waktu kelahiran Beliau; kemudian dihidangkan makanan untuk mereka dan mereka pun makan bersama; lalu mereka heranjak pulang, tanpa ada tambahan kegiatan lain- adalah termasuk bid'ah hasanah (bid'ah baik) dan diberikan pahala hagi orang yang melakukannya. Karena dalam kegiatan itu terkandung makna mengagungkan peran dan kedudukan Nabi Saw serta menunjukkan suka cita dan kegembiraan terhadap kelahiran beliau."

Imam Suyuthi membantah orang yang berkata, "Aku tidak mengetahui dasar hukum perayaan maulid ini di dalam Al Quran maupun di dalam Sunnah," dengan mengatakan, "Ketidaktahuan terhadap sesuatu tidak lalu herarti tidak adanya sesuatu itu,". Beliau juga menjelaskan bahwa Imam para hafizh, Abu Fadhl Ibnu Hajar -semoga Allah merahmatinya-, telah menjelaskan dasar hukumnya dari Sunnah. Imam Suyuthi sendiri juga mengemukakan dasar hukumnya yang kedua dan menjelaskan bahwa bid'ah tercela adalah perkara baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dalil syariat. Adapun jika ada hubungan yang kuat dengan dalil syariat yang memujinya, maka perkara itu tidak tercela.

Al Baihaqi meriwayatkan dari Imam Syafi'i Ra bahwa dia berkata, "Perkara-perkara baru itu ada dua macam, yaitu: pertama, perkara baru yang diada-adakan yang bertentangan dengan Al Quran, Sunnah, atsar, atau ijma'. Maka, ini adalah bid'ah yang sesat. Kedua, perkara-perkara baru yang baik; tidak ada pertentangan dengan satu pun (dari rujukan-rujukan hukum di atas). Dan, ini adalah perkara baru yang tidak tercela. Umar bin Khaththab Ra berkata tentang pelaksanaan shalat tarawih pada bulan Ramadhan, "Alangkah baiknya bid'ah ini"
Yakni ini adalah perkara baru yang belum dilaksanakan sebelumnya. Namun apabila dilakukan maka kita juga tidak akan menemukannya bertentangan dengan perkara yang dahulu (terjadi di zaman Nabi)". Demikian akhir kutipan dari pendapat Imam Syafi'i.

Imam Suyuthi berkata, "Kegiatan merayakan maulid Nabi Saw tidak bertentangan dengan Al Quran, Sunnah, atsar, maupun ijma'. Maka ini bukan perbuatan tercela sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syafi'i. Justru kegiatan itu merupakan perbuatan baik yang belum dikenal pada masa-masa awal Islam. Kegiatan memberi makan yang terlepas dari perbuatan dosa adalah perbuatan baik. Dengan demikian, kegiatan maulid termasuk perkara baru yang dianjurkan sebagaimana diungkapkan oleh Sultannya para Ulama, Izzuddin bin Abdissalam."

Dan hukum dasar berkumpul untuk menyemarakkan syiar maulid adalah sunnah dan qurbah (ibadah mendekatkan diri kepada Allah). Sebab kelahiran Nabi Saw merupakan nikmat terbesar untuk kita, dan syariat memerintahkan kita untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat yang kita peroleh.
Inilah yang dinyatakan kuat (rajih) oleh Ibnu Hajj di dalam kitab Al-Madkhal. Beliau berkata, "Karena pada bulan ini Allah Swt menganugerahkan kepada manusia di bumi tokoh junjungan untuk orang-orang terdahulu dan sekarang, maka wajib untuk ditingkatkan pada hari itu ibadah-ibadah, kebaikan, dan syukur kepada Allah atas nikmat besar yang dilimpahkan-Nya kepada kita."

Dasar hukum yang dikeluarkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar tentang kegiatan maulid Nabi Saw adalah hadits yang terdapat di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi Saw tiba ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi sedang berpuasa pada hari Asyu Ra, maka beliau menanyakan hal itu kepada mereka. Mereka pun menjawab, "Ini adalah hari yang Fir'aun ditenggelamkan dan Musa diselamatkan oleh Allah. Maka kami berpuasa padanya sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt"

Ibnu Hajar berkata, "Jadi, diambil faidah yang terkandung di dalam hadits ini yaitu melaksanakan syukur kepada Allah Swt atas anugerah yang Dia berikan pada hari tertentu, pemberian nikmat atau pencegahan dari bencana. Dan, kegiatan itu diulangi pada hari yang sama setiap tahun. Kegiatan syukur itu tercapai dengan berbagai bentuk ibadah seperti sujud (shalat), puasa, sedekah, dan membaca Al Quran. Dan, nikmat manakah yang lebih hesar daripada nikmat munculnya Nabi Saw ini, Nabi rahmat, pada hari itu?"

Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bentuk-bentuk kegiatan di dalam perayaan tersebut dan berkata, "Maka semestinya kita batasi bentuk-bentuk kegiatan itu pada hal-hal yang dipahami sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt seperti yang telah disebutkan: membaca Al Quran, memberi makan, melantunkan puisi-puisi pujian bagi Nabi Saw dan puisi-puisi yang menggerakkan hati untuk melakukan kebajikan dan amal akhirat. Perkara-perkara mubah yang mengandung nilai suka cita dan kegembiraan terhadap hari kelahiran itu tidak mengapa untuk disertakan dengannya."

Imam Suyuthi mengutip penjelasan Imam tokoh-tokoh qira'at, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Jauzi dari kitabnya 'Urf Al-Ta'rif bi Al-Maulid Al-Syarif ', "Jelas disebutkan dalam hadits shahih bahwa Abu Lahab mendapatkan keringanan dari siksa neraka pada setiap malam Senin karena ia memerdekakan Tsuwaibah setelah mendengarkan berita gembira kelahiran Nabi Saw yang disampaikannya. Jika Abu Lahab yang kafir dan dicela dengan nyata di dalam Al Quran mendapatkan keringanan di dalam neraka karena suka cita dan kegembiraannya pada malam kelahiran Nabi Saw, maka bagaimana lagi dengan seorang muslim dan bertauhid dari umat Nabi Saw yang bergembira dengan kelahiran beliau dan berusaha sekuat tenaga yang ia mampu untuk mencintainya? sungguh balasannya dari Allah Swt adalah Dia memasukkannya ke dalam surga yang penuh kenikmatan dengan karunia-Nya."

Selain dasar-dasar hukum dan argumentasi yang disebutkan, bisa juga berdalil dengan umumnya firman Allah Swt : "...dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah," (QS. Ibrahim : 5)

Tidak ragu lagi bahwa kelahiran Nabi Saw termasuk hari-hari Allah, sehingga memperingatinya berarti melaksanakan perintah Allah. Perkara yang demikian bukanlah bid'ah, tetapi merupakan sunnah hasanah (tradisi baik), sekalipun tidak pernah ada pada masa Rasulullah Saw

Kita merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw karena kita mencintainya. Dan bagaimana kita tidak mencintainya, sedangkan seluruh alam semesta mengenal dan mencintainya. Ingatlah hadits tentang sebatang pohon karma yang tak bernyawa, betapa ia menyayangi dan mencintai Nabi Saw serta rindu untuk selalu dekat dengan Nabi Saw yang mulia, bahkan menangis sejadi-jadinya karena rindu kepada Nabi Saw.

Referensi : madinatulilmi.com
Read more

Biografi Syekh Abdul Karim Al Qusyairy

Nama lengkapnya adalah Abdul Karim al Qusyairy. Nasabnya, Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad. Panggilannya Abul Qasim, sedangkan gelarnya cukup banyak, antara lain yang bisa kita sebutkan:

1. An-Naisabury
Dihubungkan dengan Naisabur atau Syabur, sebuah kota di Khurasan, salah satu ibu kota terbesar Negara Islam pada abad pertengahan disamping Balkh, Harrat dan Marw. Kota di mana Umar Khayyam dan penyair sufi Fariduddin ‘Atthaar lahir. Dan kota ini pernah mengalami kehancuran akibat perang dan bencana. Sementara di kota inilah hidup Maha Guru asy Syeikh al Qusyairy hingga akhir hayatnya.

2. Al-Qusyairy
Dalam kitab al Ansaab’ disebutkan, al Qusyairy sebenarnya dihubungkan kepada Qusyair. Sementara dalam Taajul Arus disebutkan, bahwa Qusyair adalah marga dari suku Qahthaniyah yang menempati wilayah Hadhramaut. Sedangkan dalam Mu’jamu Qabailil ‘Arab disebutkan, Qusyair adalah Ibnu Ka’b bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Qais bin Ailan. Mereka mempunyai beberapa cucu cicit. Keluarga besar Qusyairy ini bersemangat memasuki Islam, lantas mereka datang berbondong bondong ke Khurasan di zaman Umayah. Mereka pun ikut berperang ketika membuka wilayah Syam dan Irak. Di antara mata rantai keluarganya adalah para pemimpin di Khurasan dan Naisabur, namun ada juga yang memasuki wilayah Andalusia pada saat penyerangan di sana.

3. Al-Istiwaiy
Mereka yang datang ke Khurasan dari Astawa berasal dari Arab. Sebuah negeri besar di wilayah Naisabur, memiliki desa yang begitu banyak. Batas batasnya berhimpitan dengan batas wilayah Nasa. Dan dari kota itu pula para Ulama pernah lahir.

4. Asy-Syafi’iy
Dihubungkan pada mazhab asy Syafi’iy yang dilandaskan oleh Muhammad bin Idris bin Syafi’iy (150 204 H./767 820 M.).

5. Gelar Kehormatan

Ia memiliki gelar gelar kehormatan, seperti: Al Imam, al Ustadz, asy Syeikh (Maha Guru), Zainul Islam, al jaa’mi bainas Syariah wal haqiqat (Pengintegrasi antara Syariat dan Hakikat), dan sebagainya.
Nama nama (gelar) ini diucapkan sebagai penghormatan atas kedudukannya yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan di dunia islam dan dunia tasawuf

Nasab Ibundanya

Ustadz asy Syeikh mempunyai hubungan dari arah ibundanya pada as Sulamy. Sedangkan pamannya, Abu Uqail as Sulamy, salah seorang pemuka wilayah Astawa. Sementara nasab pada as Sulamy, terdapat beberapa pandangan. Pertama, as Sulamy adalah nasab pada Sulaim, yaitu kabilah Arab yang sangat terkenal. Nasabnya, Sulaim bin Manshur bin Ikrimah bin Khafdhah bin Qais bin Ailan bin Nashr. Kedua, as Salamy yang dihubungan pada Bani Salamah. Mereka adalah salah satu keluarga Anshar. Nisbat ini berbeda dengan kriterianya.

Kelahiran dan Wafatnya
Ketika ditanya tentang kelahirannya, al Qusyairy mengatakan, bahwa beliau lahir di Astawa pada bulan Rablul Awal tahun 376 H. atau tahun 986 M. Syuja’ al Hadzaly menandaskan, beliau wafat di Naisabur, pada pagi hari Ahad, tanggal 16 Rablul Akhir 465 H./l 073 M. Ketika itu usianya 87 tahun.
Ia dimakamkan di samping makam gurunya, Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq ra, dan tak seorang pun berani memasuki kamar pustaka pribadinya dalam waktu beberapa tahun, sebagai penghormatan atas dirinya.

Kehidupan Al-Qusyairy
Kami tidak mengenal masa kecil al Ustadz asy Syeikh al Qusyairy, kecuali hanya sedikit. Namun, yang jelas, beliau lahir sebagai yatim. Ayahnya telah wafat ketika usianya masih kecil. Kemudian pendidikannya diserahkan padaAbul Qasim al Yamany, salah seorang sahabat dekat keluarga al Qusyairy. Pada al Yamany, ia belajar bahasa Arab dan Sastra.
Para penguasa negerinya sangat menekan beban pajak pada rakyatnya. Al Qusyairy sangat terpanggil atas penderitaan rakyatnya ketika itu. Karenanya, dirinya tertantang untuk pergi ke Naisabur, mempelajari ilmu hitung, agar bisa menjadi pegawai penarik pajak, sehingga kelak bisa meringankan beban pajak yang amat memberatkan rakyat.

Naisabur ketika itu merupakan ibu kota Khurasan. Seperti sebelumnya, kota ini merupakan pusat para Ulama dan memberikan peluang besar berbagai disiplin ilmu. Syeikh al Qusyairy sampai di Naisabur, dan di sanalah beliau mengenal Syeikh Abu Ali al-Hasan bin Ali an Naisabury, yang populer dengan panggilan ad-Daqqaq, seorang pemuka pada zamannya. Ketika mendengar ucapan ucapan ad-Daqqaq, al-Qusyairy sangat mengaguminya. Ad-Daqqaq sendiri telah berfirasat mengenai kecerdasan muridnya itu. Karena itu ad-Daqqaq mendorongnya untuk menekuni ilmu pengetahuan.
Akhirnya, al Qusyairy merevisi keinginan semula, dan cita cita sebagai pegawai pemerintahan hilang dari benaknya, memilih jalan Tharikat.
Ustadz asy Syeikh mengungkapkan panggilannya pada Abu Ali ad-Daqqaq dengan panggilan asy-Syahid.

Kepandaian Berkuda
Al Qusyairy dikenal sebagai penunggang kuda yang hebat, dan ia memiliki keterampilan permainan pedang serta senjata sangat mengagumkan.

Perkawinan
Syeikh al-Qusyairy mengawini Fatimah putri gurunya, Abu Ali al-Hasan bin Ali an Naisabury (ad Daqqaq). Fatimah adalah seorang wanita yang memiliki prestasi di bidang pengetahuan sastra, dan tergolong wanita ahli ibadat di masanya, serta meriwayatkan beberapa hadis. Perkawinannya berlangsung antara tahun 405 – 412 H./1014-1021 M.

Putra putrinya
Al Qusyairy berputra enam orang dan seorang putri. Putra-putranya menggunakan nama Abdu. Secara berurutan: 1) Abu Sa’id Abdullah, 2) Abu Sa’id Abdul Wahid, 3) Abu Manshur Abdurrahman, 4) Abu an Nashr Abdurrahim, yang pernah berpolemik dengan pengikut teologi Hanbaly karena berpegang pada mazhab Asy’ari. Abu an Nashr wafat tahun 514 H/1120 M. di Naisabur, 5) Abul Fath Ubaidillah, dan 6) Abul Mudzaffar Abdul Mun’im. Sedangkan seorang putrinya, bernama Amatul Karim.
Di antara salah satu cucunya adalah Abul As’ad Hibbatur-Rahman bin Abu Sa’id bin Abul Qasim al Qusyairy.

Menunaikan Haji
Maha Guru Syeikh ini menunaikan kewajiban haji bersamaan dengan para Ulama terkenal, antara lain: 1) Syeikh Abu Muhammad Abdullah binYusuf al-Juwainy (wafat 438 H./1047 M.), salah seorang Ulama tafsir, bahasa dan fiqih, 2) Syeikh Abu Bakr Ahmad ibnul Husain al-Balhaqy (384 458 H./994 1066 M.), seorang Ulama pengarang besar, dan 3) Sejumlah besar Ulama ulama masyhur yang sangat dihormati ketika itu.

Kudanya
Dikisahkan, di antara salah satu dari sekian karamah Maha Guru Syeikh al-Qusyairy ini, antara lain ia memiliki kuda, hadiah dari seseorang. Kuda itu mengabdi kepada Syeikh selama 20 tahun. Ketika Syeikh meninggal, si kuda amat sedih. Selama seminggu ia tidak mau makan, hingga kuda itu pun mati.

Guru-guru Beliau
Para guru yang menjadi pembimbing Syeikh al Qusyairy tercatat:

1. Abu Ali al-Hasan bin Ali an Naisabury, yang populer dengan nama ad-Daqqaq.
2. Abu Abdurrahman – Muhammad ibnul Husain bin Muhammad al-Azdy as Sulamy an Naisabury (325 412 H./936 1021 M.), seorang Ulama Sufi besar, pengarang sekaligus sejarawan.
3. Abu Bakr – Muhammad bin Abu Bakr ath-Thausy (385 460 H./995 1067 M.).  Guru al Qusyairy belajar bidang fiqih kepadanya. Studi itu berlangsung tahun 408 H./1017 M.
4. Abu Bakr – Muhammad ibnul Husain bin Furak al Anshary al-Ashbahany (wafat 406 H./1015 M.), seorang Ulama ahli Ilmu Ushul. Kepadanya, beliau belajar ilmu Kalam.
5. Abu Ishaq – Ibrahim bin Muhammad bin Mahran al Asfarayainy (wafat 418 H./1027 M.), Ulama fiqih dan ushul. Hadir di Asfarayain. Di sana (Naisabur) beliau dibangunkan sebuah madrasah yang cukup besar, dan al-Qusyairy belajar di sana. Di antara karya Abu Ishaq adalah al-jaami’ dan ar-Risalah. Ia pernah berpolemik dengan kaum Mu’tazilah. Pada syeikh inilah al-Qusyairy belajar Ushuluddin.
6. Abul Abbas bin Syuraih. Kepadanya al-Qusyairy belajar bidang fiqih.
7. Abu Manshur – Abdul Qahir bin Muhammad al Baghdady at-Tamimy al-Asfarayainy (wafat 429 H./1037 M.), lahir dan besar di Baghdad, kemudian menetap di Naisabur, lalu wafat di Asfarayain.

Di antara karya karyanya, Ushuluddin; Tafsiru Asmaail Husna; dan Fadhaihul Qadariyah. Kepadanya al Qusyairy belaj’ar mazhab Syafi’y.

Disiplin Ilmu Keagamaan

1. Ushuluddin: Al Qusyairy belaj’ar bidang Ushuluddin menurut mazhab Imam Abul Hasan al Asy’ary.
2. Fiqih: Al Qusyairy dikenal pula sebagai ahli fiqih mazhab Syafi’y.
3. Tasawuf: Beliau seorang Sufi yang benar benar jujur dalam ketasawufannya, ikhlas dalam mempertahankan tasawuf Komitmennya terhadap tasawuf begitu dalam. Beliau menulis buku Risalatul Qusyairiyah, sebagaimana komitmennya terhadap kebenaran teologi Asy’ary yang dipahami sebagai konteks spirit hakikat Islam. Dalam pleldoinya terhadap teologi Asy’ary, beliau menulis buku: Syakayatu Ahlis Sunnah bi Hikayati maa Naalahum minal Mihnah.

Karena itu al Qusyairy juga dikenal sebagai teolog, seorang hafidz dan ahli hadis, ahli bahasa dan sastra, seorang pengarang dan penyair, ahli dalam bidang kaligrafi, penunggang kuda yang berani. Namun dunia tasawuf lebih dominan dan lebih populer bagi kebesarannya.

Forum Imla’
Asy Syaikh al Qusyairy dikenal sebagai imam di zamannya. Di Baghdad misalnya, beliau mempunyai forum imla’ hadis, pada tahun 32 H./1040 M. Hal itu terlihat dalam bait bait syairnya. Kemudian forum tersebut berhenti. Namun dimulai lagi ketika kembali ke Naisabur tahun 455 H./1063 M.

Forum Mudzakarah
Asy Syaikh al Qusyairy juga sebagai pemuka forum forum mudzakarah. Ucapan-ucapannya sangat membekas dalam jiwa ummat manusia. Abul Hasan Ali bin Hasan al-Bakhrazy menyebutkan pada tahun 462 H./1070 M dengan memujinya bahwa al-Qusyairy sangat indah nasihat-nasihatnya. “Seandainya batu itu dibelah dengan cambuk peringatannya, pasti batu itu meleleh. seandainya iblis bergabung dalam majelis pengajiannya, bisa bisa iblis bertobat. Seandainya harus dipilah mengenai keutamaan ucapannya, pasti terpuaskan.

Hal yang senada disebutkan oleh al-Khatib dalam buku sejarahnya, Ketika Maha Guru ini datang ke Baghdad, kemudian berbicara di sana, kami menulis semua ucapannya. Beliau seorang yang terpercaya, sangat hebat nasihatnya dan sangat manis isyaratnya.”
Ibnu Khalikan dalam Waftyatul Ayan, menyebutkan nada yang memujinya, begitu pula dalam Thabaqatus Syafi’iyah, karya Tajudddin as-Subky.

Murid- murid Beliau yang Terkenal

1. Abu Bakr – Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdady (392-463 H./1002 1072 M.).
2. Abu Ibrahim – Ismail bin Husain al-Husainy (wafat 531 H./1137 M.)
3. Abu Muhammad – Ismail bin Abul Qasim al-Ghazy an-Naisabury.
4. Abul Qasim – Sulaiman bin Nashir bin Imran al-Anshary (wafat 512 H/1018 M.)
5. Abu Bakr – Syah bin Ahmad asy-Syadiyakhy.
6. Abu Muhammad – Abdul Jabbar bin Muhammad bin Ahmad al-Khawary.
7. Abu Bakr bin Abdurrahman bin Abdullah al-Bahity.
8. Abu Muhammad – Abdullah bin Atha’al-Ibrahimy al-Harawy.
9. Abu Abdullah – Muhammad ibnul Fadhl bin Ahmad al-Farawy (441530 H./1050 1136 M.)
10. Abdul Wahab ibnus Syah Abul Futuh asy-Syadiyakhy an-Naisabury.
11. Abu Ali – al-Fadhl bin Muhammad bin Ali al-Qashbany (444 H/ 1052 M).
12. Abul Tath – Muhammad bin Muhammad bin Ali al-Khuzaimy.

Cobaan yang Menghadang
Ketika popularitasnya di Naisabur semakin meluas, Maha Guru telah mendapatkan cobaan melalui taburan kedengkian dan dendam dari jiwa para fuqaha di kota tersebut. Para fuqaha tersebut menganjurkan agar menghalangi langkah langkah popularitasnya dengan menyebar propaganda. Fitnah itu dilemparkan dengan membuat tuduhan tuduhan dusta dan kebohongan kepada orang orang di sekitar Syeikh. Dan fitnah itu benar benar berhasil dalam merekayasa mereka. Ketika itulah al Qusyairy ditimpa bencana yang begitu dahsyat, dengan berbagai ragam siksaan, cacian dan pengusiran, sebagaimana diceritakan oleh as-Subky.

Mereka yang mengecam. Al-Qusyairy rata-rata kaum Mu’tazilah dan neo-Hanbalian, yang memiliki pengaruh dalam pemerintahan Saljuk. Mereka menuntut agar sang raja menangkap al-Qusyairy, dicekal dari aktivitas dakwah dan dilaknati di berbagai masjid-masjid di negeri itu.
Akhirnya para murid muridnya bercerai-berai, orang-orang pun mulai menyingkir darinya. Sedangkan majelis-majelis dzikir yang didirikan oleh Maha Guru ini dikosongkan. Akhirnya, bencana itu sampai pada puncaknya, Maha Guru harus keluar dari Naisabur dalam keadaan terusir, hingga cobaan ini berlangsung selama limabelas tahun, yakni tahun 440 H. sampai tahun 455 H. Di sela-sela masa yang getir itu, beliau pergi ke Baghdad, dimana beliau dimuliakan oleh Khallfah yang berkuasa. Pada waktu-waktu luangnya, beliau pergi ke Thus.

Ketika peristiwa Thurghulbeg yang tragis berakhir dan tampuk Khalifah diambil alih oleh Abu Syuja’, al-Qusyairy kembali bersama rombongan berhijrah dari Khurasan ke Naisabur, hingga sepuluh tahun di kota itu. Sebuah masa yang sangat membahagiakan dirinya, karena pengikut dan murid muridnya bertambah banyak. []
Read more

Malaikat Yang Datang Sebelum Munkar-Nakir

Malaikat yang datang  sebelum Munkar-Nakir, sepertinya selama ini kita hanya mengenal malaikat yang menanyai di kubur hanya Munkar-Nakir. Tapi sebenarnya ada malaikat lain yang mengunjungi kita waktu di alam kubur sebelum Munkar-Nakir.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Sallam, "Akan datang kepada mayit, sebelum Munkar-Nakir tiba, malaikat yang wajahnya bersinar seperti matahari. Ia bernama Ruman dia berkata : "Tulislah segala perbuatanmu selama di dunia, "Mana pensilnya?". "Gunakan darahmu sebagai tinta dan tanganmu sebagai pensil". "Dimana saya menulis, sedang saya tidak mempunyai buku", tanya mayit. Kemudian malaikat merobek kain kafannya untuk menulis. "Ini adalah bukumu, tulislah segala amal kebaikan dan keburukanmu". Si mayit kemudian menulis semua amal kebaikannya. Giliran amal keburukan, dia malu untuk menulisnya. "Wahai pedosa, kenapa engkau tidak malu kepada Penciptamu ketika melakukan kemaksiatan di duina, tapi sekarang malu kepadaku". Sambil berbicara malaikat mengambil palu dan memukuli tubuh mayit. Lalu sang mayit berkata, "Baik-baik, angkat palumu, aku akan menulisnya". Setelah selesai malaikat menyuruh untuk melipat dan memberi tanda. "Dengan apa akku memberi tanda, disini aku tidak membawa apa-apa" tanya si mayit. "Pakailah kukumu untuk stempel". Setelah distempel dan dilipat malaikat mengalungkan catatanya di leher si mayit.

"Dan tiap-tiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (Sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kamu keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka." (QS. al-Isra' 13).

Nanti di hari kiamat, Allah menyuruhnya untuk membaca seluruh amal perbuatannya. Ketika sampai pada amal kejelekannya, ia berhenti dan tidak mau melanjutkan. Allah kemudian bertanya, "Mengapa tidak kamu teruskan membacanya?". "Aku malu kepadaMu", jawabnya. "Kenapa harus malu, di dunia engkau melakukannya juga tidak malu, sekarang engkau malu kepadaKu" tanya Allah. Dia menyesal atas segala kemaksiatan yang telah dilakukan di dunia. Dan penyesalannya tidak akan bisa memberi manfaat dan pertolongan.

Allah berfirman, "Peganlah dia lalu belenggulah tangannya ke leher. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta".

Sungguh kita tidak bisa membayangkan bagaimana nanti di alam kubur. Makanya waktu yang ada di dunia ini mari kita gunakan untuk melakukan kebaikan, supaya mendapat ampunan dari Allah SWT. Amiin.......

Sumber : piebie-techno.blogspot.com
Read more

Majelis DZIKRUL GHOFILIN

BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM

APA SEMA’AN ITU ?

Majlis Semaan Al Qur’an “MANTAB “ adalah suatu Majlis TAUBAT / Majlis TOPOBROTO / Majlis Taqorrub ilalloh / Majlis mencari jati diri / Majlis untuk mengadukan nasib kelak di akhirat / Majlis wisata rohani / Majlis Silaturrokhim sesama ummat muslim ( bukan antar golongan ) / Majlis cinta Rosululloh, Auliya’, Ulama’, Sholikhin, Orang tua dan Ikhwan muslim yang masih hidup atau yang sudah mati/Majlis Do’a / Majlisnya ummat islam untuk menyimak dan mendengarkan lantunan Ayat-ayat Al qur’an ( yang populer disebut majlis TOPOBROTO ) yang dilantunkan para Khafidzulqur’an ( penghafal AL QUR’AN ) yang telah dirintis oleh Waliyyulloh KH. Khamim Jazuli( Gus Miek ) putera dari Ulama’ besar KH Utsman Jazuli dari Ploso Kediri dengan tujuan disamping untuk menyejukkan rohani seorang hamba Alloh yang lagi gersang ( karena terlalu banyak memikirkan urusan dunia )juga untuk melestarikan akan keberadaan AL QUR’AN yang saat ini ummat islam sudah mulai menjauh dari AL QUR’AN (istiqomah membaca koran ).Mungkin ada yang bertanya apa itu SEMAAN ? dan kenapa dinamakan Majlis SEMAAN ALQUR’AN “MANTAB ” / Majlis TAUBAT / TOPOBROTO dll ? Dengan singkat akan aku jelaskan pertanyaan diatas namun apabila ada yang kurang mohon maaf,yang intinya sbb :

Kata SEMAAN di ambil dari bahasa Arab SAMI’A yang berarti mendengarkan/menyimak,sedangkan Majlis SEMAAN AL QUR’AN “MANTAB” yaitu kegiatan atau suatu Majlis/Jami’iyah/Kumpulan segenap qoum muslim (khususnya warga nahdhiyyin ) guna mendengarkan/menyimak lantunan Ayat-ayat suci Alqur’an yang dilantunkan oleh KHUFADZUL QUR’AN ( penghafal Alqur’an ) sebagai sarana TAQORRUB ( mendekatkan diri ) kepada ALLOH untuk jalan menuuju TAUBAT sekaligus menjadi sarana introspeksi diri / mengadu / silaturokhim antar sesama ummat islam / Do’a bersama sekaligus sebagai sarana ungkapan cinta kita kepada ALLOH, ROSULULLOH, SHOKHABAT, AULIYA’, SALAFUSH-SHOLIH, ULAMA’, ORANGTUA dan segenap IKHWAN MUSLIM ( yang masih hidup atau yang sudah meninggal) karena didalam kegiatan SEMAAN telah dirangkai dengan dimulai Sholat shubuh berjama’ah dan dilanjutkan menyimak lantunan Ayat-ayat suci Alqur’an + jam 7 istirakhat sejenak guna melakukan sholat Dukha berjamaah) sampai masuk waktu sholat Dzuhur (Sholat dzuhur berjamaah) dilanjutkan sampai masuk waktu sholat ‘Ashar (sholat ‘ashar berjamaah) berlanjut sampai masuk waktu sholat maghrib ( sholat maghrib berjamaah ) sehabis sholat maghrib dilanjutkan dengan mengamalkan aurod/wirid DZIKRULGHOFILIN dilanjutkan sholat isya’ berjamaah dan Do’a khotmil qur’an yang sebelumnya diisi dengan mau’idzoh khasanah, dan juga perlu diketahui bahwa kegiatan SEMAAN AL QUR’AN “MANTAB ” diadakan hanyalah untuk beribadah kepada ALLOH semata (demi keselamatan kelak diakhirat ), dan bukan untuk kepentingan dunia.Sekaligus sebagai pembelajaran miniatur kehidupan kita sehari-hari bahwa kita ini diciptakan oleh ALLOH didunia hanyalah untuk beribadah semata.

Dan juga diperlu dipahami ( diketahui ) bahwa kegiatan SEMAAN ini hanyalah salah satu sarana jalan untuk menuju taqorrub ILALLOH ( bukan satu-satunya ) jadi kalau saudaraku yang sudah mengamalkan Toriqoh mu’tabaroh ( Toriqoh Qodiriyah dll ) silahkan diteruskan/dijalankan dengan Istiqomah.

Sekedar informasi bahwa kegiatan “SEMAAN AL QUR’AN MANTAB” dan DZIKRUL GHOFILIN di laksanakan setiap sebulan sekali, Untuk wilayah Surabaya dan sekitarnya JUM’AT WAGE, Nganjuk dan sekitarnya SELASA PON, Kediri dan sekitarnya AHAD LEGI, Tulunggung dan sekitarnya JUM’AT LEGI, Blitar dan sekitarnya AHAD PON, Ponorogo dan sekitarnya RABU PON, Jember dan sekitarnya AHAD PAHING, Jogjakarta dan sekitarnya AHAD LEGI dll ( bersifat untuk umum ) untuk lebih jelasnya silahkan hubungi sekertariat SEMAAN AL QUR’AN “MANTAB” ( untuk wil Surabaya ) Jl.Berbek 11 no 33 A Sidoarjo / Gus KHOLIS, untuk Jogjakarta dan sekitarnya PONPES MUJAHADAH Lempuyangan ( Gus Misbach ).

Dan Semoga kita dianugerahi oleh ALLAH hati yang selalu mencintai AL QUR’AN dan mendapat syafa’at dari AL QUR’AN besuk di hari Qiyamat, Amiin Yaa Robbal ‘alamiin.

TENTANG DZIKRUL GHOFILIN
DZIKRUL GHOFILIN Artinya: Dzikirnya / ingatnya orang-orang yang lupa dengan ALLAH, Untuk orang-orang yang senang / ingin bisa dikumpulkan dengan para kekasih ALLOH ( auliya’ ) dan orang-orang sholeh di akherat kelak, Dari judul yang begitu indah dan mempesona maka siapa orangnya yang tidak senang ikut masuk golongannya?….. Akan tetapi sebelumnya harus tahu persisnya dulu tentang hal ikhwalnya wirid DZIKRUL GHOFILIN ini apa dan bagaimana, betul apa hanya mainan yang menjadi kemusykilan dll,Maka marilah dihayati dalam tulisan ini,semoga kita diberi Hidayah dan Taufiq menuju kebenaran dan semoga tulisan ini oleh ALLOH diberi kebenaran dan bisa bermanfaat yang sebanyak-banyaknya dengan lantaran berkah dan derajat para insan agung (Auliya’), Amin…… Jika sudah begitu kita perlu menghubungkan diri dengan dengan para Auliya’, Ulama’ dan Sholikhin baik yang masih hidup atau yang sudah wafat (al Markhumin wal Maghfurin) dengan cara berziarah, berhadiyah Fatikhah dll, Kemudian kita juga berusaha memperbaiki dan meningkatkan pribadi kita masing-masing dengan cara mengetahui dan meniru perjalanan orang-orang agung tsb, Andaikata kita betul-betul mau mengaitkan diri dan memperhatikan perjalanan beliau-beliau, insya ALLOH kita akan menemukan jalur untuk kita berjalan yang semestinya menuju ALLOH, Karena memang merekalah para pewaris Nabi yang oleh ALLOH dipercaya penuh untuk segenap ummat manusia didunianya dan beri fasilitas bisa memberi syafaat kelak diakherat. Dan semoga kita sekalian diakherat nanti dikumpulkan menjadi golongannya, bisa masuk surga tempat yang abadi dengan bisa melihat ALLOH Tuhan yang maha perkasa dan maha bijaksana. Amin yaa Robbal ‘alamin.

Wirid DZIKRUL GHOFILIN itu isinya berupa bacaan-bacaan yang untuk beribadah, munajat/berbisik, menghadapkan diri dan berdo’a dihadapan ALLOH dzat yang maha kuasa dengan merendahkan diri, merasa serendah-rendahnya, tawadhu’, khudu’, tadhorru’, khusyu’, Adalah merupakan suatu senjata yang ampuh yang sangat kita butuhkan untuk meminta apa saja.

Adapun pokok isinya yang paling banyak adaah bacaan / membaca surat Al Fatikhah seratus kali ( 100 x ) yang sebetulnya bacaan ini sangat tidaklah asing dijalankan oleh orang-orang agung ( auliya’ ) zaman dahulu,Dan juga beberapa hadiyah Fatikhah kepada para leluhur orang-orang agung yang menjadi panutan kita, Terus disempurnakan atau diselingi dengan Asma’ul khusna, Istighfar, Sholawat dan Tahlil.

Membaca Al Fatihah seratus kali ( 100 x ) adalah amalan-amalan atau wiridnya Al maghfurlah simbah KH. Abdul Hamid Pasuruan Rokhimahulloh ( beliau dimasa hidupnya adalah orang yag sangat masyhur kewaliannya dan menjadi jurusan / tempat kembali ummat sangat tidak asing,Dan setelah wafatnya maqomnya selalu ramai diziarahi).. Dan wiridnya beliau Al maghfurlah KH. Achmad Qusyairi ( pasuruan )bin KH. Shiddiq Jember pengarang kitab Tanwirul Hija ( nadzomnya SafinatunNaja ) kitab ilmu Fiqh yang sangat terlaku sebagai pelajaran anak-anak kita di bumi jawa khususnya. Lalu oleh mbah KH.Abdul khamid amalan-amalan ini diharapkan supaya dilanjutkan oleh panuan kita KH.Khamim Jazuli ( Gus Miek ) putra KH.Utsman Jazuli dari PONPES “AL FALAH” ploso Mojo Kediri Jawa Timur ( seorang yang terbiasa berkomunikasi dengan para Auliya’illah ) dan terkenal sangat unik perilakunya, serta masyhur kewaliannya dan menjadi panutan / tempat kembali orang banyak diantara kita semasa hidupnya,Dan kemudian dikembangkan oleh KH.Achmad Shiddiq Jember Rois ‘Am Jam’iyyah Nahdhotul ‘Ulama’ ( th.84- 94 ),Jadi DZIKRUL GHOFILIN adalah hasil rangkuman orang mulya ( ‘indalloh ) tiga itu.

Lalu do’a diakhir Dzikrul Ghofilin yang berupa syi’irnya Syaikh Achmad bin Sumaith :

SA-ALTU ROBBII SHIKHKHATAL QOLBI WAL JASAD dst

Ini disamping amalannya KH.Achmad Qusyairi juga amalannya Khadhrotusy syaikh KH. KHOLIL Bangkalan Madura gurunya para guru tertua kita yang agung-agung seperti KH.Shiddiq Jember, KH. Manaf / ‘Abdul karim Lirboyo Kediri ( semoga para beliau mendapatkan limpahan Rahmat dari ALLOH dan memberkahi kita semua fiddun-ya wal-akhiroh ).

Tentang mewiridkan membaca Fatikah 100 x ini sebetulnya tidak asing dijalankan/diamalkan oleh para salafush sholih sejak zaman dahulu, buktinya banyak kitab-kitabnya para ‘Ulama’ yang menerangkan seperti syarahnya kitab Ihya’ (karya Imam Ghozali), Khazinatul Asror, Inarotud Duja, Syamsul Ma’arif. Demikian pula asal usulnya orang yangmempunyai resep pun banyak juga, Adapun yang kita amalkan dan kita ikuti dari guru kita ialah menurut resepnya Imam Al Ghozali Ra.

Adapun cara membacanya juga bermacam-macam seperti keterangan dari kitab-kitab tsb :
Setiap ba’da sholat maktubah ( setalah sholat fardhu lima waktu ) dibaca 20 x 20 x ,atau
Setelah sholat shubuh 30 x, Dzuhur 25 x ,’Ashar 20 x , Maghrib 15 x dan ‘Isya’ 10 x ,Dua thoriqoh ini baik semua tinggal kita pilih yang mana,atau….
Menurut mbah KH.Achmad Qusyairi al Markhum Ijazah dari gurunya dari Imam Ghozali begini:Membaca Fatikhah dengan Basmalah dan Aminnya,setelah sholat shubuh 21 x , Dzuhur 22 x ,’Ashar 23 x , Maghrib 24 x dan ‘Isya’ 10 x ( jumlah 100 x ) lalu setiap selesai membaca Fatikhah ba’da sholat supaya membaca Du’a-ul fatikhah yang masyhur ciptaan Wali qutub Al Khabib ‘Abdulloh al Khaddad Ra 3 x , Maka dari tiga cara tersebut silahkan mana yang disukai ( yang penting cara membacanya yang benar / memakai ilmu Tajwid atau lebih jelasnya silahkan belajar Al Qur’an ( terutama Al Fatikhah) kepada guru yang betul-betul mumpuni ).
Resep dari Imam Ghozali seperti diatas asalnya berupa Syi’iran / Qosidah ‘Arobiyah yang banyaknya 13 bait yang arti ringkasnya kurang lebih sbb :

“Siapa orangnya yang ingin beruntung,kedatangan maksud tujuannya dan kecukupan rizqinya maka langgengkanlah membaca Faatihatal Kitab 100 x setiap ba’da Isya’, Shubuh, Dzuhur, ‘Ashar dan Maghrib, maka akan lekas tercapai tujuannya, naiknya pangkat, kemulyaan, kewibawaan, kemudahan dan kegembiraan,hidup ni’mat sepanjang zaman, aman dari kemlaratan dan kesulitan dari terkena urusan dan tipudaya jelek, tidak butuh merepotkan orang lain, menjadi periang menghadapi kesulitan dan bahaya dan mendapat pertolngan sewaktu-waktu membutuhkan”

Amalan wirid Dzikrul Ghofilin ini pertama dirintis oleh Al Mukarrom KH.Achmad Shiddiq di daerah sekitar kabupaten Jember jawa Timur dan terus berkembang sampai sekarang,mulai dari sebelum beliau dijadikan sebagai Rois ‘Am Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ ( NU ) dan berjalan sampai akhir hayat beliau,Maka kepada segenap warga NU hendaknya mema’lumi adanya dengan arti tidak menyalahi faham tentang kegiatan ini dan kelanjutannya. Kemudian didaerah Kediri juga dirintis oleh Al Mukarrom KH. Hamim Jazuli ( Gus Miek ) dan berkembang sampai sekarang, Dan lama kemudian oleh beliau diciptakanlah kegiatan umum berupa Istima’ul Quranil karim yang dimulai tahun 1986 M. dengan nama “JANTIKO” berpusat di Kediri yang kemudian di ganti dengan nama “MANTAB” ( yang berarti orang yang bertaubat ).

Kegiatan beribadah tersebut dimaksudkan untuk kegiatannya siapa saja tidak pandang aliran yang ingin memperbaiki kejelekan pribadinya ,bertaubat dan meningkatkan kepribadiannya masing-masing dengan tekun beribadah kepada ALLOH Swt,semata.

Alkhamdulillah kegiatan-kegiatan ini sampai saat ini berkembang dengan baik ke daerah-daerah tanah Jawa khususnya bahkan sudah sampai ke tanah Sumatra ,malasya dan Singapura.

Akhirnya semoga ALLOH Swt berkenan melestarikan dan memberi berkah yang sebanyak-banyaknya dan memperbaiki serta membangkitkan segenap hamba-hambaNYA, Dan kita semoga besuk di hari qiyamat dikumpulkan bersama-sama orang-orang agungnya ALLOH Amiin Yaa Robbal ‘Alamin.

Dikutip dari buku MANAQIB 50 Wali Agung
Karya :Ustadz Maftuh Basthul birri Al Khaifdz.
Read more